17 Juli 2008
Pedagang di Kaki Kantin
Ditulis oleh Mohamad Jaka Prawira dan telah dikomentari sebanyak 3 buah
Seorang Hawa, pedagang makanan di tempatku menuntut ilmu, SMAN 22 Bandung. Merupakan pembuat panganan berat untuk siswa - siswi yang membutuhkan nutrisi di segala macam kondisi. Namun bukanlah cepeceng atau gocap yang dia butuhkan untuk menyambung tali hidup, meski itu adalah urusan lain. Keinginannya untuk memberi tenaga untuk membantu warga - warga sekolah adalah suatu kehebatan yang akan terus diingat oleh mayoritas.
Makanan, suatu hal yang esensial kedua setelah pelepas dahaga. Dan sosok Bibi kantin adalah nikmat dunia yang bisa dikejar kapanpun pelajaran berlangsung. adalah Ma' Arie. Idola di sekolahku, yang menjadi primadona tatkala pelajar yang kelaparan membutuhkan bantuan. Tidak selamanya begitu, karena tak jarang muka warung dijadikan sebagai tempat bersantai dalam waktu belajar. Mabal, mereka bilang. Sehingga tempat tersebut seringkali mendapat penjagaan dari Kesiswaan yang haus darah.
Apabila masa - masa istirahat tiba, kantin Ma' Arie melejit mendahului tempat jajanan sejenis. Kudapan - kudapan yang disajikan oleh tangan dingin Ma' Arie adalah makanan yang dapat diterima lidah siapapun. Bagi mereka, makanan itu akan disantap, seraya tersenyum kecil dengan gaya bak Bondan Winarno; Ma'nyus.
Sebetulnya aku tak terlalu mengenalnya.
08 Juli 2008
Terjebak dalam Jeratan Setan
Ditulis oleh Mohamad Jaka Prawira dan telah dikomentari sebanyak 3 buahDari kumpulannya yang terbuang..."
Kusambut malam hari dengan maut, keadaan berbicara begitu. Sudah berbatang - batang suntikan yang menembus bagian dermis-ku. Kurasakan Heroin menjalari urat syaraf, dan otak yang mulai membisu. Aku lelah, seperti halnya otot - ototku yang mulai mengalami nikmatnya mati rasa. Aku terkungkung, terperangkap. Aku bingung untuk memilih lepas dari jeratan bubuk setan atau mati dengan pedih, mulut menganga.
(read more ...)
02 Juli 2008
Jalan - Jalan
Ditulis oleh Mohamad Jaka Prawira dan telah dikomentari sebanyak 3 buahAh, ya. Apabila harus meminta maaf, maka itu dikarenakan oleh saya sendiri yang kebanyakan Kopi Darat dan jalan - jalan. Jalan - jalan ? Meskipun hanya di pelosok kota Bandung, namun gelora yang terasa membuat saya lebih fresh dalam menjalani hidup(meski badan agak sakit - sakitan).
Soal kesibukan, jangan ditanya. Nyatanya saya bukanlah orang yang sok sibuk, tetapi mengajak diri sendiri untuk sibuk. Ajakan makan di sana - sini makin membuat tubuh mirip seperti ban karet. Karena itu, Tuhan memberi saya kesempatan untuk "jalan - jalan" pada hari Selasa kemarin.
(read more ...)

Subcribe RSS of this blog